PPI Stockholm Berfoto bersama di depan Royal Institute of Technology dalam rangka hari Batik sedunia Teman teman dari PPI Denmark datang ke Swedia untuk mengadakan 'jam session' bersama PPI Swedia pada tahun baru Teman teman dari PPI Lund-Malmo Workshop Photography yang di selenggarakan oleh PPI Stockholm. Foto Ini diambil pada hari pertama workshop  

Workshop Photography yang di selenggarakan oleh PPI Stockholm. Foto Ini diambil pada hari kedua workshop

  Winter Gathering PPI Swedia tahun 2011. Acara pembahasan AD / ART di atas laut Baltik menuju Riga-Latvia Perwakilan PPI Wilayah Swedia di Riga - Latvia dalam rangka Winter Gathering PPI Swedia. Acara Silahturahmi tahunan PPI Swedia dan acara Pembahasan AD /ART PPI Swedia Teman teman PPI Swedia di Jonkoping ikut berpartisipasi dalam acara International Day di Universitas Jonkoping. Foto bersama staff KBRI PPI Linkoping dan PPI Norrkoping berpartisipasi dalam acara International day di universitas Linkoping Silahturahmi dengan PPI Finland di Helsinski Sahabat Sahabat PPI Stockholm dengan Baju Traditional Indonesia dalam acara Pasar Malam yang diselenggarakan oleh Swedish Indonesian Society (SIS). Foto kiri: Tomoki (Jepang) dan Ana. Foto Kanan : Ash (India), Mba Anik (SIS), Charlie (PPI Stockholm)  

Sahabat Sahabat PPI Stockholm dengan Baju Traditional Indonesia dalam acara Pasar Malam yang diselenggarakan oleh Swedish Indonesian Society (SIS). Foto kiri: Vanessa (Australia) dan Ericsson (PPI). Foto Tengah : Alejandra dan Rizal (PPI). Foto Kanan: Lintang (PPI) dan Claudia

  Sahabat Sahabat PPI Stockholm dengan Baju Traditional Indonesia dalam acara Pasar Malam yang diselenggarakan oleh Swedish Indonesian Society (SIS). Foto kiri: Kinga (Hungaria) dan Natanael (PPI). Foto Tengah : Sari (PPI) dan Arief (PPI). Foto Kanan: Katja (Germany) dan Uki (PPI)

Sistem Pendidikan di Swedia

Informasi lebih lanjut mengenai belajar di Swedia dapat diakses melalui www.studyinsweden.se

 

SISTEM PENDIDIKAN DI SWEDIA

 

I. KATA PENGANTAR

Swedia yang terletak di jantung wilayah Scandinavia memiliki ciri dan paradigma yang unik antara industry led economy di satu sisi dan welfare state di sisi yang lain. Sebagai negara yang didorong oleh kemajuan industri, Swedia mengandalkan inovasi dan research and development sebagai ujung tombak dari rangkaian roda perekonomiannya. Hal ini tercermin dari majunya sektor telekomunikasi dan Information and Communication Technology (ICT), otomotif, energi (yang menekankan pada sustainability) dan perdagangan. Di sisi lain, peran pemerintah masih sangat dominan dalam menciptakanwelfare state, yaitu suatu kondisi ketika penerimaan pajak yang memadai membuat pelayanan dasar seperti transportasi publik, pendidikan dan kesehatan lebih  terjangkau, mudah diakses dan saling terintegrasi sehingga  kualitasnya punsangat baik dan dapat diandalkan.

Selain itu, Swedia juga merupakan negara yang sangat berhasil dalam pencapaian kualitas hidup manusia, persamaan hak antara laki dan perempuan, rendahnya angka diskriminasi ras, serta penerapan hukum yang tegas dan sama rata.Hal ini ditunjukkan dengan tingginya angka Human Development Index (HDI) (peringkat ke-7 dari 182 negara pada tahun 2009)Swedia juga termasuk negara dengan kualitas pemerintahan yang sangat bagus terlihat dari rendahnya tingkat korupsi berdasarkan laporan The Transperancy International serta tingginya level E-government readiness index. Oleh karena itu, sebagai sebuah sistem, Swedia merupakan negara yang patut menjadi benchmark terutama bagi negara-negara lain  termasuk Indonesia.

Selain itu, daya tarik (pull factors) pendidikan di Swedia semakin meningkat, karena (sampai dengan 2011), Swedia masih memberlakukan free education system bagi para mahasiswanya. Artinya, seluruh biaya pendidikan diselenggarakan dengan gratis (beberapa pos pengeluaran mahasiswa umumnya akan berkaitan dengan pembelian diktat dan penyediaan buku-buku). Pola pendidikan yang umumnya memiliki keterkaitan kuat antara industri-universitas pun membuat output pendidikan Swedia kompeten di sektor industri dan  usaha.

Sistem perkuliahan di Swedia memberikan kesempatan yang sangat luas dan setara kepada semua mahasiswa apa pun kebangsaannya. Hal ini berbeda dengan beberapa negara lain yang mengkhususkan beberapa kelas hanya untuk mahasiswa asal negara yang bersangkutan (program internasional).

 

II. SISTEM PENDIDIKAN

Salah satu sistem pendidikan di Swedia yang dapat diterapkan di Indonesia pada tingkat pendidikan menengah adalah 'yrkesutbildning' atau 'vocational education'. Swedia memiliki 'yrkesutbildning' pada tingkat 'gymnasiet' atau sekolah menengah, dan dilanjutkan ke tingkat 'yrkeshögskolan'. Tujuan dari pendidikan ini adalah mempersiapkan tenaga kerja terampil siap kerja untuk level operasional dan administrasi.

Indonesia pun sebenarnya telah menerapkan sistem pendidikan yang sama, antara lain sekolah menengah kejuruan (SMK) dan program pendidikan diploma satu, dua, dan tiga (D1, D2, D3). Namun,pelajar Indonesia kurang menaruh minat karena minimnya gaji yang didapat oleh lulusan program pendidikan ini jika dibandingkan dengan lulusan sarjana. Pemerintah maupun lembaga penyelenggara pendidikan juga seringkali menganaktirikan 'vocational education' dengan minimnya alokasi dana untuk program pendidikan ini. Faktor lain yang menyebabkan 'vocational education'kurang berkembang di Indonesia adalah kurangnya kesadaran masyarakat bahwa semakin banyak lulusan yang berperan serta langsung di sektor industri akan turut pula mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.

Secara umum, pada tingkat pendidikan tinggi, terdapat dua jalur pendidikan yang bisa ditempuh di Swedia, yaitu Universitet dan Högskolan. Berbeda dengan Högskolan yang lebih menjurus ke bidang tertentu(di Indonesia dikenal dengan Sekolah Tinggi/Institut), seperti teknik (Tekniska Högskola)danekonomi (Handelshögskola), Universitet memiliki cakupan yang lebih luas dan melingkupi beberapa disiplin ilmu. Dalam perkembangannya, sebuah Högskolan bisa memperluas kompetensi ilmiahnya dan bermetamorfosis menjadi Universitet.

Namun, tidak semua Tekniska Högskola memiliki pola administrasi yang sama. Misalnya, LTH (Lund Tekniska Högskola) masih berdiri di bawah Lund Universitet. Artinya, fakultas engineernya  dijalankan di bawah LTH yang memiliki administrasi sendiri, tetapi masih berkoordinasi dengan Lund Universitet.

Setelah seorang siswa menamatkan pendidikan di Gymnasiet (setingkat Sekolah Menengah Umum (SMU)), dengan mengikuti Bologna process yaitu  SMU+3 (180 ETCS), maka siswa tersebut akan diberikan kesempatan untuk meneruskan pendidikan tiga tahun di bangku universitas dan kemudian bisa langsung masuk ke dunia kerja (setingkat bachelor degree/S1). Opsi kedua adalah lulus dari pendidikan tingkatan bachelor dan menambah dua tahun masa studi untuk mendapatkan gelar master (S2).Untuk jurusan teknik, misalnya, setelah menyelesaikan lima tahun kuliah, mahasiswa akan mendapatkan gelar Civilingenjör”. Gelar tersebut masih diberikan meskipun Swedia sudah mengadopsi sistem Bologna. Hal ini sepertinya hanya diaplikasikan secara internal di Swedia untuk masa transisi dan tidak berpengaruh terhadap mahasiswa asing.

Sementara itu,pendidikan S3 dijalankan dengan dua jalur penerimaan.Vacancy PhD adalah jalur untuk merekrut mahasiswa berdasarkan kebutuhan universitas akan penelitian yang sedang dijalankan dan industrial PhD adalah jalur untuk mahasiswa yang memenuhi kebutuhan pendanaan secara mandiri. Dengan sistem employment, seorang PhD student tidak perlu membayar biaya studi/penelitian apa pun selama menjalani pendidikan. Mereka justru akan mendapatkan standar gaji yang ditetapkan bersama dengan Labor Union. Standar gaji tersebut akan cenderung meningkat seiring dengan terselesaikannya masa pendidikan doktoral yang diambil. Sebagai contoh, seorang mahasiswa PhD tingkat awal yang mendapatkan 18.000 SEK akan mendapatkan kenaikan gaji sebesar 24.000 SEK setelah level licentiate dan akan menjadi 30.000 SEK setelah lulus S3 dan melanjutkan jenjang post doctoral. (1 SEK=0.1 EUR)\

Di Swedia juga terdapat licenciate degree yang dapat ditempuh seorang mahasiswa Master dengan menambah dua tahun masa studi.  Bagi sektor industri Swedia, gelar setengah PhD ini cukup efektif untuk mempercepat laju kemajuan karier.

Uniknya, kurikulum yang diadopsi oleh beberapa universitas di Swedia tidak bersifat baku. Mahasiswa dapat memilih dengan bebas mata kuliah yang diinginkan asalkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan universitas. Secara umum, mata kuliah yang ditawarkan terdiri atas empat level, yakni  level A, B, C, dan D. Level A dan B tergolong dalam basic level, sedangkan C dan D tergolong advanced level yang dikhususkan bagi mahasiswa yang ingin mendalami mata kuliah tertentu. 

Masa studi hampir semua program master internasional berdurasi dua tahun. Namun, beberapa universitas, seperti Lund University dan Dalarna University, memiliki  pilihan program master satu tahun (60 credits) atau dua tahun (120 credits) untuk gelar yang sama, terutama untuk bidang non science engineering.

Beberapa universitas di Indonesia juga melakukan kerja sama U2U (university to university) dengan universitas-universitas di Swedia. Misalnya, master program - exchange di Karlstad University bisa ditempuh dalam waktu satu tahun.Demikian juga program kerja sama antara UGM dan Chalmers untuk beberapa program di bidang Teknik Kimia.

 

III. SISTEM UJIAN DAN PENILAIAN

Sebagaimana mayoritas negara Eropa yang lain, sistem ujian instutusi pendidikan di Swedia hanya dilakukan satu kali, yaitu final exam (dengan beberapa assignment, paper atau project report di dalamnya). Namun, terdapat berbagai variasi tergantung dari disiplin ilmu dan universitas. Beberapa mata kuliah hanya menekankan pada paper dan project report, sementara beberapa disiplin ilmu juga menerapkan ujian oral kepada mahasiswanya.

Sistem nilai akreditasi di Indonesia

Perbandingan sistem penilaian ECTS, Swedia, dan Indonesia/Amerika dapat dilihat di attachment.

Adanya rencana untuk mengadopsi sepenuhnya Bologna Process akan menyebabkan sistem penilaian di Swedia mentransfer atau mengubah semua nilai ke dalam angka atau huruf, kecuali untuk tesis/internship/lab yang biasanya hanya berupa pass atau fail (P/F). Perubahan ini ditujukan untuk mempermudah transfer kredit antara universitas-universitas di Eropa. Tetapi, masih terdapat beberapa perbedaan yang membuat Swedia tidak dapat sepenuhnya mengadopsi sistem distribusi nilai dari Bologna, sehingga Swedia memiliki kriteria sendiri yang diumumkan di awal kuliah mengenai syarat minimum untuk mendapatkan nilai tertentu. Dengan demikian, mahasiswa akan mengetahui secara persis apa yang harus dipersiapkan untuk mendapatkan kriteria kelulusan yang mereka inginkan.

Sistem pendidikan di Swedia umumnya berdasarkan periode (1 periode= 8 minggu). Hal ini berbeda dengan sistem semester yang lazimnya ditemukan di Indonesia. Sistem ujian dilakukan satu kali di setiap akhir periode. Jika mahasiswa gagal dalam ujian tersebut, masih terdapat kesempatan untuk re-exam yang bisa diambil hingga tiga kali.

 

IV. KEHIDUPAN KAMPUS

1. Dokumen formal

Untuk bisa diterima ke dalam jenjang pendidikan di Swedia, calon mahasiswa harus memenuhi berbagai persyaratan (ijazah, sertifikat bahasa Inggris, motivation letter, dsb) yang ditujukan ke suatu sistem penerimaan terintegrasi yang disebut dengan Studera (www.studera.nu). Setelah mahasiswa dinyatakan diterima, maka yang bersangkutan harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan kedutaaan Swedia untuk mendapatkan visa studi di Swedia. Segera setelah sampai di Swedia, mahasiswa melakukan pendaftaran ke kantor pajak setempat (Skateverkert) untuk mendapatkan personnummer. Dengan personnummer (person number) tersebut, mahasiswa mendapatkan hak-hak yang hampir sama dengan permanent resident di Swedia seperti akses terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, perpustakaan, dan sebagainya.

Setelah mahasiswa masuk ke dalam sistem pendidikan, maka setiap mahasiswa memiliki kewajiban untuk membayar biaya keanggotaan student uniodan mendapatkan kartu mahasiswa. Pembayaran umumnya dilakukan setahun dua kali. Kartu mahasiswa ini sangat penting karena biasanya otoritas pendidikan mengharuskan mahasiswa membawa kartu tersebut  saat ujian. Kartu tersebut juga sangat bermanfaat karena dapat digunakan sebagai kartu diskon untuk berbagai jenis pembelian, misalnya McDonald, 7-Eleven, paket-paket Microsoft, SAS, SJ (kereta api di Swedia), Vasttrafik, dan sebagainya. Lebih lanjut tentang admission ada di sini

2. Biaya hidup

Di negara tujuan studi mana pun, termasuk Swedia, besar kecilnya biaya hidup bulanan tergantung dari gaya hidup dan aktifitas-aktifitas lain di luar kegiatan pendidikan di universitas. Kebutuhan bulanan mahasiswa Indonesia secara rata-rata adalah sebagai berikut:

                                                                                                       (SEK)

  • -Akomodasi (apartemen/corridor room)                                               2.500-4.000
  • -Makanan                                                                                        2.000-3.000
  • -Transportasi                                                                                   400-500
  • -Lain-lain (buku, fotokopi)                                                                  500-1.000

Kurs 1 SEK = Rp 1250

Dengan demikian, biaya kebutuhan bulanan mahasiswa berkisar antara 5.500-8.500 SEK yang tentunya sangat tergantung dari aktifitas dan gaya hidup dari mahasiswa. Lebih lanjut tentang keuangan ada di sini

3. Akomodasi

Berbeda beberapa negara lain yang menyediakan asrama khusus untuk mahasiswa, secara umum akomodasi di Swedia merupakan kebutuhan yang cukup sulit didapatkan. Meskipun terdapat penyedia apartemen khusus mahasiswa, seperti SGS studentbostader, secara umum mahasiswa harus mendaftar ke penyedia apartemen/flat selayaknya penduduk setempat dengan tingkat persaingan yang sangat ketat (boplats, familijebostader, dan sebagainya). Setiap awal tahun ajaran baru, berita mengenai excess demand apartemen merupakan hal yang selalu terulang. Pada tahun 2008, pemerintah setempat bahkan sampai menghimbau masyarakat yang memiliki extra room di rumah masing-masing untuk bisa menampung mahasiswa, khususnya international student.

Beberapa penyedia akomodasi yang ada di Swedia seperti :

Karslad : Krebo (www.krebo.se) dan Stub (www.stub.se). Lebih lanjut tentang akomodasi ada di sini

4. Makanan

Harga makanan di kantin mahasiswa atau di food stall di sekitar kampus berkisar 25-50 SEK (Rp 30-75 ribu). Jenis makanan tersebut meliputi bagguet, pasta, salad, sandwich, dan lain-lain. Dengan harga yang relatif mahal tersebut, sebagian mahasiswa Indonesia umumnya memenuhi kebutuhan makanan dengan memasak sendiri.

5. Fasilitas Olahraga

Umumnya fasilitas olahraga dapat ditemukan di kampus atau di daerah apartemen yang dikelola khusus untuk mahasiswa (SGS). Sebagai anggota dari Student Union, mahasiswa memiliki akses terhadap sarana olahraga yang tersedia di kampus, misalnya hall, kolam renang, lapangan bulu tangkis, dan sebagainya.

6. Transportasi

Transportasi publik di Swedia umumnya diselenggarakan dengan sistem terpadu. Dengan memiliki satu kartu tertentu, maka pemilik kartu dapat menggunakan seluruh jenis transportasi yang ada, misalnya SL di Stockholm dan Vasttraffik di Gothenburg. Sistem pembayaran bisa dilakukan secara retail maupun paket. Pembayaran retail dilakukan setiap melakukan satu kali perjalanan, baik dengan kartu maupun sms, sementara pembayaran paket biasanya dilakukan per bulanan, 6 bulanan atau tahunan dengan harga yang berbeda untuk mahasiswa dan orang dewasa. Jenis transportasi yang tersedia meliputi trem, bus dan feri. Sepanjang perjalanan masih dilakukan dalam region yang sama, maka penumpang tidak perlu membayar biaya tambahan. Di kota-kota tertentu, sarana transportasi mahasiswa yang banyak dipakai adalah sepeda. Lebih lanjut tentang transportasi public ada di sini

7. Kerja sambilan

Keinginan mahasiswa untuk bekerja sambilan bukanlah hal yang mudah dilakukan di Swedia. Hal ini bukan hanya dipicu oleh beban kuliah yang berat, tetapi juga krisis global yang imbasnya masih terasa sampai saat ini, serta sebagian pekerjaan semi-formal  yang menuntut kemampuan bahasa Swedia. Namun, beberapa jenis pekerjaan yang memungkinkan mahasiswa terlibat di dalamnya adalah pengantar koran, pengantar reklame atau pelayandi restoran. Lebih lanjut tentang kerja sambilan ada di sini

AttachmentSize
Sistem penilaian.doc43.5 KB