FAQ Makanan
Bahan makanan Indonesia
Menurut statistik, pada tahun 2007 sekitar 13.4% penduduk Swedia lahir di luar Swedia. Imigran di Swedia terutama berasal dari sesama negara Nordik (Finlandia, Denmark, Norwegia) dan kawasan konflik (Irak, Iran, bekas Yugoslavia, Somalia, Lebanon), serta sebagian kecil dari Polandia, Chile, Thailand, China, dan lain-lain.
Dengan beragamnya latar-belakang budaya tersebut, tidak begitu sulit sebenarnya mendapatkan bahan makanan impor, termasuk yang sesuai dengan lidah Indonesia. Toko-toko yang menjual produk Asia (Asiatiska livsmedel) biasanya menyediakan beras, bumbu, ikan asin, mie instan, dan bahkan juga (di beberapa tempat) Indomie, sambal ABC, atau kecap. Satu-satunya bumbu dasar Indonesia yang mungkin tidak tersedia di Swedia adalah kemiri, yang hanya dipakai di Indonesia dan Malaysia.
Orang Eropa secara umum sudah biasa mengkonsumsi nasi atau pasta selain roti, jadi beras dan mie tersedia di supermarket pada umumnya. Beras yang umum tersedia digolongkan sebagai jasminris dan basmatiris. Jasminris biasanya diimpor dari Thailand. Nasinya pulen seperti beras Indonesia. Beras Basmati diimpor dari India; harganya lebih mahal. Bulirnya panjang, butuh air lebih banyak untuk memasaknya, dan nasinya lebih pera/berderai, lebih cocok untuk nasi goreng atau kebuli. Selain itu juga ada beras dari Italia, yang lebih cocok untuk memasak risotto.
Dalam sejarahnya, Swedia juga melakukan perdagangan ke Timur Jauh untuk mendapatkan rempah-rempah, teh, dan sutra; dan sampai saat ini mereka masih menggunakan kayu manis, cengkeh, pala, kapulaga, dan jahe di beberapa makanan khas Swedia seperti kannelbullar (cinnamon rolls) atau glögg (minuman anggur dicampur rempah-rempah). Menjelang musim dingin, biasanya supermarket mulai memajang bumbu-bumbu tersebut sebagai bahan dasar glögg, yang biasanya agak "tersembunyi" letaknya.
Buat yang lidahnya sulit beradaptasi dengan makanan asing, tidak ada salahnya membawa bumbu-bumbu instan dari Indonesia, seperti bumbu ayam goreng, nasi goreng, soto, atau rawon, selain bekal darurat Indomie.
Daging-dagingan yang halal bisa didapatkan di toko atau pasar Arab. Tapi pastikan terlebih dahulu karena kadang-kadang mereka juga menjual daging babi dengan segala bentuk manifestasinya (bacon, skinka, salami, dll.).
- Setyo, Goteborg -
Makanan halal
Di Chalmers, Chalmers Islamiska Forening, memberikan guidance yang cukup lengkap dan bagus yang bisa digunakan mahasiswa (dan masyarakat umum) dalam pembelian makanan.Mungkin hal yang sama juga ada di tempat lain (?).
Biasanya dalam ingrediens makanan terdapat code-code yang masuk "daftar hitam" yang berarti berasal dari barang yang haram. Seperti yg kita tahu, (makanan) yang haram akan tetap haram mau diapapun juga, sebaliknya yang halal bisa menjadi haram jika treatment nya gak benar (based on Islamic way).
Berikut list code yang mengandung unsur haram :
E 422, E 431, E 432, E 433, E 434, E 435, E 436, E 445, E 470a, E470b, E 471, E 472a, E 472b, E 472c, E 472d, E 472e, E 472f, E 473, E 474, E 475, E 476, E 477, E 479b,E 481, E 482, E 483, E 491, E 492, E 493, E 494, E 495, E 570; juga polyoxietylen (20) sorbitantrioleat (tanpa E-number).
Selengkapnya di :
http://www.cif.chs.chalmers.se/
Ayam pun demikian, ada yang disertifikasi halal dan ada yang tidak.
Semoga ini tidak makin memberatkan dan malah sebaliknya makin memudahkan kita. Kalau E, (sepertinya) rule of thumb nya adalah E4 dan E5, di bawah itu E1,2,3 insya allah halal (wallahu alam)
- Ibra, Goteborg -
n/a
- Jenis Artikel:
- Topic:
- Negara:
- Add new comment
- 1935 reads
-











