Reply to comment
Gerakan Kepemudaan Indonesia melalui PPI Swedia
Saya telah tinggal selama satu setengah tahun di Swedia dan menyimpan banyak pengalaman menarik termasuk menjadi koordinator wilayah Linköping sampai sekarang. Ciri khasnya adalah dinamis. Kata "perubahan" sangat melekat pada perkembangan aktivitas PPI Swedia. Perubahan terakhir adalah pemberlakuan tuititon fee kepada mahasiswa non-EU. Otomotis mahasiswi/a Indonesia turun drastis tetapi tidak membuat PPI lumpuh. PPI justru semakin eksis setelah Pemerintah Swedia memberikan hak legal kepada PPI melalui organizational number yang dapat digunakan untuk berbagai hal, salah satunya membuka tabungan organisasi (Kudos to Azis Chalmers).
Begitu banyak kesempatan bagi PPI untuk berkembang lebih besar. Banyak individu dan institusi yang tertarik untuk bekerjasama dengan PPI. Seminar multikulturalisme di Linköping pada April 2011 berhasil mengikat kerjasama antara PPI, Foreign Affairs Society Linköping University, Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Swedia dan Latvia, dan International Institute for Development and Electoral Assistance (IDEA). Seminar menuai banyak pujian dari banyak mahasiswi/a asing karena telah membuka fakta-fakta menarik tentang Indonesia (Negara dengan penduduk kelima terbesar dan masyarakat Muslim terbesar di dunia dengan keragaman budaya, agama, suku dan kekayaan alam). Seminar ini akan digelar kembali pada tahun 2012 mendatang.
Dibandingkan dengan PPI negara-negara Eropa lainnya (Inggris, Jerman dan Belanda), PPI Swedia termasuk PPI yang kecil. Dengan jumlah anggota tidak lebih dari 60 orang, PPI Swedia termasuk organisasi yang kecil namun menghasilkan kegiatan-kegiatan besar. Istilahnya kecil-kecil cabe cawit. Mari kita lihat PPI Swedia di Gothenburg yang berhasil menyelenggarakan sarasehan secara periodik. Lebih hebatnya lagi kegiatan ini didanai secara swadaya oleh teman-teman di Gothenburg. Beberapa narasumber terkenal datang ke Gothenburg seperti Achmad Aditya, presiden Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) dan Yudi Pawitan, satu-satunya Proffesor Indonesia di Karolinska Institute di Stockholm. Salut kepada teman-teman di Gothenburg!
Lantas apa yang masih kurang dari PPI Swedia? Tidak ada. Seperti judul saya di atas, kepemudaan, ke-Indonesia-an dan wawasan yang luas menjadikan anggota PPI Swedia dan PPI yang lain menjadi sangat pas untuk menjadi calon pemimpin Indonesia di masa depan. Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam atau manusia. Indonesia itu krisis kepemimpinan. Swedia telah maju terlebih dahulu melahirkan sistem kesejahteraan yang memastikan setiap pemudanya pekerja keras, cerdas dan jujur. Itu yang saya harapkan bahwa PPI Swedia dapat mewarisi sifat-sifat yang positif dari negara Swedia untuk pembangunan karakter Indonesia ke depan. Saya selalu mengatakan "kedepan" di dalam tulisan ini karena Indonesia masih membutuhkan waktu untuk bertumbuh. Namun pada saatnya lepas landas nanti, Indonesia tidak boleh mengalami krisis pemimpin.
Koordinator pusat PPI Swedia akan memegang peranan penting. Selain menjaga pelaksanaan visi misi yang tertuang dalam AD/ART, koordinator pusat harus memastikan PPI tetap hidup. Kegiatan-kegiatan PPI tidak boleh surut karena jumlah anggota yang semakin menurun. Saya berpikir bahwa koordinator pusat harus mencari banyak cara untuk memanfaatkan berbagai jaringan, kesempatan dan peluang untuk menguatkan kembali eksistensi PPI Swedia. Kamar Dagang Swedia sudah menyatakan ketertarikannya untuk bekerjasama, penjualan T-shirt PPI Swedia dapat menambah pemasukan PPI dan pemantapan calon koordinator pusat dan wilayah PPI Swedia tidak akan membuat kosong proses pencalonan kandidat koordinator.
Pergerakan kepemudaan telah menjadi batu tonggakan sejarah di Indonesia. Mulai dari Sumpah Pemuda, Kemerdekaan, Reformasi 1997/8 sampai pembangunan ekonomi saat ini. PPI Swedia harus mengambil bagian yang lebih besar di dalam kontribusi pembangunan Indonesia. Maju terus pemuda/i Indonesia!
- Add new comment
- 185 reads
-










