
Ditulis oleh: Hari Priyadi (Koordinator Pusat PPI Swedia 2013-2014)
Menurut laporan International Monetary Fund (IMF) tahun 2012 bertajuk “World Economic Outlook Database”, Indonesia menduduki 3 (tiga) besar negara dengan capaian pertumbuhan ekonomi tercepat di antara negara anggota G 20*). Disebutkan di sana, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 7.8%, Indonesia 6.2% dan India 5.5%, sementara negara Eropa dan Amerika mengalamai krisis ekonomi yang belum teratasi hingga saat ini.
Yang menariknya lagi, McKinsey Global Institute, dalam laporan yang dirilis bulan September 2012, berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Economic Potential, saat ini Indonesia merupakan negara dengan ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dengan 45 juta penduduk kelas konsumen, 55 juta pekerja terampil dan 53% populasi penduduk menghasilkan 74% GDP (Gross Domestic Product), serta potensi pasar US$ 0.5 trilliun.
Dalam laporan tersebut, McKinsey memprediksi bahwa tahun 2030, ekonomi Indonesia akan menjadi salah satu raksasa dunia dengan menduduki 7 (tujuh) besar ekonomi dunia, 135 juta penduduk kelas konsumen, 71 % populasi menyumbangkan 86% GDP, 113 juta pekerja terampil dan potensi pasar mencapai US$ 1.8 trilliun.
Dalam sebuah seminar yang saya hadiri di Upper Chamber, Gedung Parlemen Denmark tanggal 30 April 2013 di Copenhagen, Ketua Parlemen Denmark Mogens Lykketoft menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat penting untuk kerjasama investasi dan perdagangan, karena beberapa hal yakni 1) profil ekonominya yang menakjubkan; 2) menjadi role model dalam pelaksanaan demokrasi di regional Asia; dan 3) potensi sumberdaya alam dan manusianya yang hebat. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Menteri Perdagangan dan Investasi Denmark, Pia Olsen Dyhr, yang turut menjadi keynote speaker dalam seminar tersebut dan pernah beberapa kali ke Indonesia.